Feeds:
Posts
Comments

catatan akhir tahun

1.1.
bila aku perahu
kaulah sungainya
kukayuh rindu demi rindu ke hulu
kauhilirkan luka-lukanya

1.2.
kaulah bisik di balik pintu
mimpi yang mencabik
memporakporandakan tidurku

kaulah gerit di balik kelambu
gairah yang membelit
menghisapmuntahkan namaku

1.3.
seperti telur-telur berlepasan dari lengan
aku pecah berhamburan
jadi rintih-rintih hujan yang kausebar

jendela, melankolia

: hujan. bianglala. daun teh. chamomile. sweater.

di luar hujan terus
senja hampir purna
burung-burung pulang
meniti bianglala

kenangan menembus
memancar pesona
cahaya yang ditembakkan
ke kaca-kaca prisma

:  langit tujuh warna di matamu
daun-daun teh di sweatermu
aroma chamomile di lingkar lehermu
lama menoreh, membiru beku

apa yang layak kuingat, kauingat
selain kesedihan dan usia yang lewat

hanya ingin, hanya senyap
hanya ciuman dingin angin yang lolos
ketika hendak kututup jendelaku rapat-rapat

parafrase

pada akhirnya kita, seperti kauduga,
adalah kelakar mingguan
pada sisipan koran yang menunggu
untuk ditimbang

atau sirkus yang datang ke lapangan
berakrobat, terbang meloncati api
bintang yang dipanjar malam
sebelum dipadamkan matari

di pasar loak, orang tak akan
mengerti siapa sesungguhnya engkau ini:
lelaki yang menenteng-nenteng joran
dan peta laut mati

tapi di bulan, ya di bulan yang jauh itu
sampan-sampan tengah merapat, melepas
riak-riak cahaya ke terucuk cadas
dan pantai surut dan pemburu-pemburu
hanya menorehkan bekas

dan kau bergegas sambil berkata sesuatu
tapi pasar bising dan aku kehilanganmu
hanya jejakmu
hanya jejakmu
tertimpa jejakku, selalu.

dalam demam

malam menggaris rimis
langit kota yang beku
kabut berlepasan
berjatuhan dari tingkap-
tingkap lampu

kaudesakkan kembali
namamu, tubuhmu,
pendar-pendar itu
ke taman kecil di mana
burung-burung menyusun
sarang terakhir

sebuah ayunan
mengayunkan suara
bayangan hitam
di kejauhan

kaukah itu? tanyamu
ketika lampu padam
dan suara tinggal karat
bilah-bilah logam
yang mendekat
pelan.

kaukah itu?

sajak empat

gerimis pun gugur di ufuk hari
wajahmu terbit dari iluminasi

di jalan ini, aku tak tahu
mengapa memburu, mencari

ketika memintas musim
pada daun-daun soka
ketika membias waktu
pada lapis-lapis prisma

lalu malam susut
dan sunyi mengeras
lalu malam kisut
dan engkau terlepas.

sajak tiga

ia ulurkan tangan pada pintu loji
dan langit warna ambar

matahari mengecup pelupuknya yang kuncup
menghalau pucat malam

lonceng berdentang dari puncak menara
ketika lapar dan takut berdesakan,
berhimpitan di muka pagar

jatuhkanlah pada kami
manna
secukupnya

dari dalam loji ia dengar suara
seperti nyanyian si bungsu yang tersisih
dari meja perjamuan, ke sebuah negeri
yang dinubuatkan

barangkali ia akan pulang esok
atau kemudian hari
ketika hari robek
dan tak bisa ditambal lagi

atau memang tak ada esok
yang lain lagi?

ia saksikan pintu bertambah rapat
dan asap
bau karat

Tuhan yang bersemayam dalam loji
Kehendakmulah
yang jadi.

di sebuah Januari

di sebuah Januari yang sekusam kayu
kutemukan garis-garis waktu
mengikir pelipit kulitmu

matamu yang hazel berkilauan
tertimpa lampu kafe
aroma wafel meresam
dari balik etalase

kafe seakan ruang kedap
menghisap engkau, menghisap aku
ke tubir membran
yang paling gelap

kucoba menyalakan ingatan
pada pijar sebatang korek api
di mana terang lekas
menjadi bekas kembali

tapi masih ada yang lewat
tak terbaca di reremang cuaca
ketika waktu menarik picu
di sebuah Januari yang sekusam kayu.

sajak dua

aku mencintaimu
seperti selembar daun
menyimpan sunyi bertahun-tahun
di sebuah herbarium.

[seperti] haiku

dekat rembulan
melengkung pohon tinggi
titian puisi

buku terbuka
lebah dan kupu-kupu
cahaya surya

embun desember
menetes-netes lembut
daun sikejut

hutan merembang
pecah kelopak anggrek
swara penggerek

pasir berdzikir
spanjang hulu dan hilir
butir cinta-Mu

sajak satu

kulekapkan bibirku
ke kulit cakrammu
yang biru.

seperti waktu yang ganas
melahap rindu
sampai tandas.

o betapa ranum
muncup-muncup putingmu
kukulum
betapa legit
payudaramu kugigit
bit demi bit.

apakah yang tersisa
dari upacara purba
ini kecuali sia-sia?

tapi kata tinggal jerit
derit seluloid
dihimpit jarum optik.

sungguh fana
lapis-lapis kulitmu
menyimpan rahasia.

lalu di sebuah pergi
gelombang berlari
hanya tanda
hanya tanda tertinggal
berceceran
di tembok
dan tangan.

sajak pernikahan

dari rerimbun hujan
yang gelap dan rahasia
bocah-bocah berambut cahaya
menyulut bianglala.

rumput beratus warna
menghampar di altar sederhana
sepasang hati menganyam janji:
kau takkan pernah kubiarkan sendiri.

malam yang luas menunggu diarungi
cinta yang deras padamu
kuhanyutkan beratus warna sepi.

sajak 1

dadamu mata air cahaya
kolam rembang
rumah segenang ikan
bermata bintang.

aku ikan bersayap tangan
menujumu,  lupa
jalan pulang.

negeri puisi

selembar pagi di atas meja
kubikin sketsa:
rumah dengan banyak pintu
dan jendela.

sebaris sajak di atas meja
kueja:
segera aku tiba
di negeri penuh pintu
dan jendela.

mengail sajak (2)

di danau syahdu
pengail-pengail sunyi
mengadu.

sampai badan habis
dimangsa waktu
tak sampai-sampai kailku,
tak sampai ke lubuk Mahasunyimu.

piknik ke langit

sebuah sepeda bersandar
pada pohon kamboja
keranjang rotan terhampar
gerimis rebah
di rerumputan

“aku suka langit sehabis biru
sehabis sepi luntur
sehabis sunyi lebur
sehabis kaubisikkan dongeng
pengantar tidur”

gigil aku bersimpuh
kapan datang padaku dari jauh
sepeda bersayap, wangi kamboja
gerimis putih, peti rotan
mengantarku ke langit
engkau tinggal.

Older Posts »