Feeds:
Posts
Comments

suatu hari

ada yang kusembunyikan dari
kalender rumah kita

sebuah hari di mana aku
pergi diam-diam, mengeluh
di sebuah kamar, menyalakan lampu,
dan mencatat sejarah,
minus namamu

sebuah hari ketika
angin menumbuk dada dan
sebuah pintu dihempaskan

tepat di mukaku

penyapa lampu

langit, reranting kabel optik dengan
buah-buah edge yang mengkal,
sulur-sulur sinyal berjatuhan
di atap rumah, di pekarangan

dari rerimbun berry hitam sepasang
mata mengapung sehabis mengicau
rindu pada kota kelahiran, rindu
sebuah pulang

pulang, cita-cita setiap petualang.
tetapi saban hari ia tak bisa berjumpa
pintu rumahnya sendiri sebelum matahari
menarik pulang cahaya atau bulan
leleh setengah matang pada piring
sarapan paginya

kalau sekarang ia rindu kota yang jauh
barangkali sebuah proyeksi citraan
seperti yang menimpa musafir ketika
kehausan di padang pasir

atau

sebenarnya bukan apa-apa
hanya rindu, perasaan abstrak
yang sulit disisihkan dari
dadanya, itu saja.

unpretty |

ariel, rapunzel,
mulan, anastasia
seperti sebuah
scene klise disney
di depan cermin
: who is that girl I see?

isn’t she lovely |

bulan dengan ribuan
sampan awan
yang mengelilingi
dan kutambatkan perahuku
dari jauh sini

songbird |

mengucap namamu
sekilas, hujan terbit
membilas kenangan
it’s alright,
i know it’s right

get it right |

sunyi itu turun
begitu tenang
meraih tubuhku
sebelum suaramu
lirih kudengar

di luar hanya fana. waktu absen ketika kutekan flip rewind pada ipod made in china. drew! drew! kuseru namamu -unromantic- berkali-kali

kunaiki gelombang rri 103.0 kuberikan cintaku juga sayangku percaya padaku kukan menjagamu #eeeaaaa selesai di pengadilan agama. next!

mendengarkan mp3 memandang sawah mengalun begitu indah cover version sementara di kursi sebelah politik seperti baju yang belum disetrika

apakabar hari ini, den ancelotti? fantastis, cinta dan benci punya massa-nya sendiri. semua yang kaulakukan is mejik

soklat/stroberi

1/
sekotak 6-day
diet pack
teronggok
di meja rumah

sepiring sate padang
terbentang di meja kantor
sekarang

tuhan
ada di mana
-mana

2/
dingin tak tercatat
pada kaleng milo

3/
cinta kadang terlihat
seperti susu soklat/stroberi
hasrat tak terperi
pada hal yang kita tahu
harus dihindari

kesetiaan

kecipak ombak, lalu gelombang
berakhir pada sebungkah karang

mereka menyebut itu kesia-siaan
aku menyebutnya perjuangan

menikah

seperti bioskop bagi
sepasang remaja ketika
lampu mulai redup

dan kita kasak-kusuk
tepat di belakangnya

destinasi cinta

seperti menuju kebayoran
via sudirman atau tendean
cinta seperti lalu lintas pagi
dengan jebakan-jebakannya

visi

misalkan waktu adalah sumbu, aku
mau berjaga sampai padammu.

parkinson

ingatanku padamu adalah air
yang menetes dari jemari tangan

banyak hal yang tak bisa lagi
kuingat, kukenang
tapi kupastikan, aku
akan sampai padamu
rumah seluruh ingatan

ciumbuleuit

pada bukit-bukit
ciumbuleuit
kauhamparkan
tubuhmu yang
mengkal

angin bermain
di ranting-ranting
rambutmu berkibar
membarut
perbukitan

parasmu ranum
tersepuh surya
bulir-bulir gandum
yang dimatangkan
usia

pinggulmu terjal
gelung-gelung hutan
rimba kecil pada
lanskap parahyangan

kukebut dingin
ke mantel coklatmu
hasrat mendarat
di landai lehermu

selebihnya sorga:

bunga matahari
sejenak
sebelum senja

ping!

terdengar suara
ping!
di jendela

kau melongok
tapi pintu
tak kunjung
kaubuka

tahu
di luar
Aku sabar
menunggu
seperti biasa

cipaganti

pada riap
rambutmu
akan kusematkan
kembang hujan

rambutmu rumpun
lalang basah yang
menghamparkan
harum tanah

akan kulucuti
bibirmu yang dingin
seperti pohon-pohon
dilucuti musim

tapi langit suwung
dan daun-daun
kuning sitrun

rindu adalah jarak
dua lengkung subuh
yang tak tertempuh,
katamu waktu itu

atau dua tubuh yang
enggan dijauhkan,
desisku perlahan

desing angin
menebas angan
di bulevar

kekasih,
wajahmu teraba lagi
pada pusara jalan

ode buat hujan

walau pernah kulupa-lupakan namamu
walau pernah kuhapus-hapus hurufmu
walau pernah kubuang-buang jauh cintamu
di bulan baik ini, alhamdulillah,
kita dipertemukan lagi

engkau
senantiasa hadir
ada seperti darah
ngalir

telah lesap
segenap tunggu dan daya
telah lenyap
jarak ingat dan lupa

di dalamku
engkau makin
deras saja

layla tov

ketika genta gereja berdentang
melintas suara adzan
dan kau sandarkan kepala
pada pundakku, layla

bila kau katupkan mata
seperti itu
akan kucuri waktu
mengecup keningmu

telah kita tempuh
kebosanan demi kebosanan
berputar-putar
membilang angan

lev adam yekhashshev darkho
wadonay yakhin tsa’ado

tapi Tuhan
timbul tenggelam
seperti nyala kunang-kunang
di kejauhan

kai humeis oun ginesthe hetoimoi

apakah kita akan menyerah
seperti simpuh pada
sebuah ibadah

kauhembuskan nafas
dingin dan panjang
tengadah memandang
langit kosong lengang

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.