Archive for September, 2007

petang di taman

di pojok sebuah taman
ada jari-jari yang kuncup
dan lutut yang bertelut.

di pojok sebuah taman
ada cericit orang kalah
dan jerit doa yang pecah.

di pojok sebuah taman
ada gerimis yang belum usai
dan gigil yang tak kunjung lerai.

di pojok sebuah taman
dalam simpuh yang curam dan sunyi
masih kusebut Ia yang senantiasa menjadi
denyut Getsemani.

Advertisements

Read Full Post »

kidung

candra lan pra lintang
nyunaraken padhang

peksi ngoceh mawurahan
sato kewan girang

tetuwuhan ngumbar sekar
sarta asung woh-wohan

asma-Nya ing samesta
: angumandhang.

Read Full Post »

di sebuah subuh

mengenang Sawokembar

bintang-bintang jatuh berlontaran,
berlontaran ke hulu mataku.

bulan angslup di tikungan,
malam padam satu persatu.

bunga-bunga cahaya mulai bermekaran,
bermekaran di pokok dan carang-carang.

dan suara srek srek orang menyapu di halaman,
menorehkan ngilu panjang ke sumsum tulang.

sesaat setelah kloneng lonceng-Mu kudengar,
bintang-bintang mencair menjelma embun di pipiku.

Read Full Post »

lerai

seperti dua petir yang tumbang
sehabis hujan pergi

dua getir lelap-leram
berdekapan di baris-baris puisi.

Read Full Post »

chocolate-mint

senja beraroma peppermint
meruah dari tiap butir
suka-luka yang mengampas
di secangkir coklat panas.

kita berdua duduk
menatap langit hibuk
menghitung kawanan awan
pulang menuju kandang.

entah di awan mana
pernah kusimpan namamu diam-diam
sebelum angin merontokkan bulu-bulunya
menjadi bulir-bulir hujan.

sesungguhnya kita paham
alasan sebuah perpisahan
tapi masih saja ada yang jatuh menitik
saat punggung saling berhadapan.

Read Full Post »

lirih

lelampu bulan
berpantulan di danau
airmata perempuan.

Read Full Post »

janji kecil puisi

aku mau jadi terumbu karang
yang berkhidmat pada alun gelombang
beresonan dengan arusmu yang luas dan curam.

Read Full Post »