Archive for January, 2008

ia ulurkan tangan pada pintu loji
dan langit warna ambar

matahari mengecup pelupuknya yang kuncup
menghalau pucat malam

lonceng berdentang dari puncak menara
ketika lapar dan takut berdesakan,
berhimpitan di muka pagar

jatuhkanlah pada kami
manna
secukupnya

dari dalam loji ia dengar suara
seperti nyanyian si bungsu yang tersisih
dari meja perjamuan, ke sebuah negeri
yang dinubuatkan

barangkali ia akan pulang esok
atau kemudian hari
ketika hari robek
dan tak bisa ditambal lagi

atau memang tak ada esok
yang lain lagi?

ia saksikan pintu bertambah rapat
dan asap
bau karat

Tuhan yang bersemayam dalam loji
Kehendakmulah
yang jadi.

Advertisements

Read Full Post »

di sebuah Januari

di sebuah Januari yang sekusam kayu
kutemukan garis-garis waktu
mengikir pelipit kulitmu

matamu yang hazel berkilauan
tertimpa lampu kafe
aroma wafel meresam
dari balik etalase

kafe seakan ruang kedap
menghisap engkau, menghisap aku
ke tubir membran
yang paling gelap

kucoba menyalakan ingatan
pada pijar sebatang korek api
di mana terang lekas
menjadi bekas kembali

tapi masih ada yang lewat
tak terbaca di reremang cuaca
ketika waktu menarik picu
di sebuah Januari yang sekusam kayu.

Read Full Post »

herbarium

aku mencintaimu
seperti selembar daun
menyimpan sunyi bertahun-tahun
di sebuah herbarium.

Read Full Post »