Archive for the ‘Puisi’ Category

suatu hari

ada yang kusembunyikan dari
kalender rumah kita

sebuah hari di mana aku
pergi diam-diam, mengeluh
di sebuah kamar, menyalakan lampu,
dan mencatat sejarah,
minus namamu

sebuah hari ketika
angin menumbuk dada dan
sebuah pintu dihempaskan

tepat di mukaku

Read Full Post »

penyapa lampu

langit, reranting kabel optik dengan
buah-buah edge yang mengkal,
sulur-sulur sinyal berjatuhan
di atap rumah, di pekarangan

dari rerimbun berry hitam sepasang
mata mengapung sehabis mengicau
rindu pada kota kelahiran, rindu
sebuah pulang

pulang, cita-cita setiap petualang.
tetapi saban hari ia tak bisa berjumpa
pintu rumahnya sendiri sebelum matahari
menarik pulang cahaya atau bulan
leleh setengah matang pada piring
sarapan paginya

kalau sekarang ia rindu kota yang jauh
barangkali sebuah proyeksi citraan
seperti yang menimpa musafir ketika
kehausan di padang pasir

atau

sebenarnya bukan apa-apa
hanya rindu, perasaan abstrak
yang sulit disisihkan dari
dadanya, itu saja.

Read Full Post »

selasa dalam 4 kicauan

di luar hanya fana. waktu absen ketika kutekan flip rewind pada ipod made in china. drew! drew! kuseru namamu -unromantic- berkali-kali

kunaiki gelombang rri 103.0 kuberikan cintaku juga sayangku percaya padaku kukan menjagamu #eeeaaaa selesai di pengadilan agama. next!

mendengarkan mp3 memandang sawah mengalun begitu indah cover version sementara di kursi sebelah politik seperti baju yang belum disetrika

apakabar hari ini, den ancelotti? fantastis, cinta dan benci punya massa-nya sendiri. semua yang kaulakukan is mejik

Read Full Post »

destinasi

 seperti lalu lintas pagi jakarta
dengan jebakan-jebakannya

Read Full Post »

visi

misalkan waktu adalah sumbu, aku
mau berjaga sampai padammu.

Read Full Post »

ping!

terdengar suara
ping!
di jendela

kau melongok
tapi pintu
tak kunjung
kaubuka

tahu
di luar
Aku sabar
menunggu
seperti biasa

Read Full Post »

layla tov

ketika genta gereja berdentang
melintas suara adzan
dan kau sandarkan kepala
pada pundakku, layla

bila kau katupkan mata
seperti itu
akan kucuri waktu
mengecup keningmu

telah kita tempuh
kebosanan demi kebosanan
berputar-putar
membilang angan

lev adam yekhashshev darkho
wadonay yakhin tsa’ado

tapi Tuhan
timbul tenggelam
seperti nyala kunang-kunang
di kejauhan

kai humeis oun ginesthe hetoimoi

apakah kita akan menyerah
seperti simpuh pada
sebuah ibadah

kauhembuskan nafas
dingin dan panjang
tengadah memandang
langit kosong lengang

Read Full Post »

Older Posts »