dinding-dinding tumblr buram
oleh kenangan

kolom-kolom wordpress
sedingin es

di laman
puisi berguguran
seperti peristiwa jumat siang
ketika diktator @tifsembiring
menghabisi riwayat kebebasan

hidup tak pernah abadi,
katamu @JustWannaSayIt berulangkali

apakah yang @kau takutkan #truthordare
kataku meminjam pertanyaan

engkau mengirim (˘⌣˘)​
dari kejauhan

apakah harap
masih utuh
atau rasa cemas
penuh ke seluruh*

mungkin nanti #tuhan akan melawat
mengetuk-ketuk
lewat jendela skype

atau memang
#lifeisunfairuntil the_end
sedang timeline makin berisi
dengan complain + melankoli

Advertisements

on nothing

bulan
jatuh dalam
secangkir espresso
langit mistis
seperti
vignet marie
pada kanvas picasso

kepada september

berbaring
di rerumputan
sehabis hujan
menyaksikan
cahaya beserbuk
jatuh
dari ketinggian

dan
di kejauhan
kerlap sayap
capung
bagai warna
pada
daun gugur

tahun-tahun telah
menyepuh rindu
memutih rambutku
musim-musim
melukis gelisah
menegaskan parasku

sementara kau
tak kunjung hadir
sekedar menemaniku
berbaring
menyusun ulang
kenangan
yang telah jadi
puing

kesiut angin september
menghampir,
menebar sihir
di sudut dada
ada yang senantiasa
tersirap,
tergigil

the girl in striped pajamas

cinta adalah pesan-pesan pendek tengah malam. dan aku akan menunggumu sampai tertidur kemudian.

apa yang membikin kau lelap setelah percakapan? mungkin suara hujan yang melenakan. mungkin lalu lintas yang lengang. atau sepasang alismu yang kau usap pelan-pelan. mungkin…

kudekap tubuhmu yang imajiner.

setelah itu tinggal malam, bau kecut ter pada tembok kamar dan kedip lampu messenger yang meninggalkan kita perlahan-lahan.

in solitude

bulan ranum di reranting langit
malam harum sebentar
seperti kenangan
sebelum jerit

 

pofferface

masih ada langit
tersimpan dalam
potret kita
putih
seperti bulir-bulir gula
pada poffertjes yang
mulai dingin
di atas meja

jendela, melankolia

: hujan. bianglala. daun teh. chamomile. sweater.

di luar hujan terus
senja hampir purna
burung-burung pulang
meniti bianglala

kenangan menembus
memancar pesona
cahaya yang ditembakkan
ke kaca-kaca prisma

:  langit tujuh warna di matamu
daun-daun teh di sweatermu
aroma chamomile di lingkar lehermu
lama menoreh, membiru beku

apa yang layak kuingat, kauingat
selain kesedihan dan usia yang lewat

hanya ingin, hanya senyap
hanya ciuman dingin angin yang lolos
ketika hendak kututup jendelaku rapat-rapat